Minggu, 15 Januari 2023

Kecerdasan Buatan Apa Yang Dibutuhkan Mahasiswa Ilmu Komunikasi?



Menurut saya ada beberapa Kecerdasan Buatan yang dibutuhkan Mahasiswa Ilmu Komunikasi.

Berikut kecerdasan yang dibutuhkan Mahasiswa Ilmu Komunikasi :

1. Marketing



Nah, ada lagi nih salah satu kemampuan yang dimiliki oleh mahasiswa komunikasi. Yaps, ilmu marketing. 

Lho kok bisa sih? Jawabannya tentu saja bisa. Melalui jurusan ini kamu bakal belajar banyak hal tentang pemasaran. Misalnya pemahaman produk, advertising produk yang tepat, hingga tahu bagaimana mempromosikan produk tersebut.

2. Jurnalis



Ilmu komunikasi dan dunia jurnalis adalah dua hal yang tak terpisahkan. Kamu tak hanya dituntut untuk menulis berita, namun kamu juga bakal belajar bagaimana melakukan teknik wawancara, menyampaikan sudut pandang yang tepat, riset berita, hingga menyampaikan struktur berita yang tepat. 

Baca juga: Mahasiswa Baru, Yuk Kenali Etika Komunikasi Online dengan Dosen

3. Riset



Masuk di jurusan ini ternyata juga bisa membuat kemampuanmu melakukan riset semakin diperdalam. Kamu tak hanya melakukan penelitian dan pengolahan data saja, namun kamu juga bakal dituntut untuk menganalisa suatu teori. Menarik bukan?

4. Manajemen



Kemampuan manajemen di sini yang dimaksud adalah melakukan manajerial. Misalnya saja mengatur waktu dan mengkoordinasikan berbagai hal. Jadi kamu tak hanya belajar ilmu yang ada semasa perkuliahan saja, namun juga bagaimana melakukan manajemen waktu yang baik.

5. Videografi



Di masa yang semakin canggih, kemampuan menguasai teknologi semakin dicari. Nah, salah satu kemampuan yang dimiliki adalah videografi ini guys. Di jurusan ini kamu tak hanya belajar banyak mengolah video untuk kebutuhan dokumentasi periklanan ataupun media. Seru banget lho.

6. Fotografi 



Fotografi di jurusan ini memang sudah tak asing lagi di telinga. Kamu akan belajar bagaimana mengambil gambar dengan jelas untuk kepentingan jurnalistik atau media. 

Tantangan Yang Harus Ditingkatkan Indonesia Tentang Cyber Security

            



Ancaman kebocoran data dalam konteks keamanan dunia maya (cybersecurity) di Indonesia kembali menjadi sorotan khusus. Sejumlah kalangan seperti akademisi dan pengamat mendorong pemerintah untuk memprioritaskan regulasi proteksi data untuk menangkal ancaman cyber.

Indonesia saat ini menjadi negara ketiga paling ditarget dalam ancaman cyber security setelah Amerika Serikat dan India, menurut laporan Check Point, Software Technologies Inc.

Sedangkan dari sektornya, industri finansial atau keuangan menjadi sektor yang paling rentan terhadap ancaman cybersecurity. Lebih lanjut lagi, dugaan akan bocornya belasan juta data konsumen di sejumlah eCommerce masih menjadi berita yang hangat di Indonesia.

Riset “Disruptive Decision Making” yang dilakukan oleh Telstra, perusahaan induk Telkomtelstra, memaparkan bahwa prioritas utama pemimpin bisnis global saat ini termasuk di antaranya melindungi aset digital dari ancaman dunia maya dan mengoptimalkan investasi untuk mengefisienkan waktu serta manajemen sumber daya sebagai bagian dari transformasi digital perusahaan.

Investasi yang diperlukan untuk keamanan cyber perusahaan tentunya dapat menyebabkan dilema biaya untuk menghindari pengeluaran yang sangat besar dalam melindungi sistem dari ancaman cyber, terutama dari pelanggaran kebocoran data.

Chief of Product & Sevice Officer Telkomtelstra Agus F Abdillah menilai tantangan utama bagi korporasi di Indonesia dalam mengelola keamanan cyber terletak pada kemampuan untuk mendeteksi dan merespons secara efektif terhadap pelanggaran kebocoran data pada waktu yang tepat. Sekaligus di sisi lain, menghindari pengeluaran yang tidak terencana dalam implementasi cyber security.

“Alokasi investasi untuk cyber security, terutama untuk mengatasi kebocoran data, sebaiknya dimulai dengan penilaian security intelligence yang holistik dan komprehensif. Setelah semua ancaman dan kerentanan didaftar dan diprioritaskan, perusahaan dapat melanjutkan dengan pilihan investasi yang dikelola dengan benar untuk teknologi dan alat keamanan,” ujar Agus.

Menurutnya, security intelligence dalam kaitannya dengan keamanan cyber bukanlah hal baru di industri global. Penerapannya sendiri berfokus pada wawasan berbasis bukti, termasuk mekanisme, indikator, implikasi, dan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti tentang ancaman atau bahaya yang ada atau dapat muncul terhadap aset perusahaan,” paparnya.

Meskipun demikian, intelijen cyber ini terdiri dari jutaan indikator yang perlu difilter dan diprioritaskan. Oleh karena itu selain teknologi, intelijen keamanan cyber terbaik juga membutuhkan elemen talenta manusia yang expert dalam masalah keamanan yang saat ini sulit ditemukan di Indonesia.

Tantangan kekurangan sumber daya manusia (SDM) yang ahli di bidang cyber security sudah dibahas dalam riset bertajuk “Connecting Commerce” yang dilakukan Telstra dengan The Economist Intelligence Unit. Studi itu mengungkapkan bahwa kekurangan 'orang dan keterampilan' adalah tantangan digital terberat di Indonesia.

Dalam riset yang dilakukan tahun lalu itu ditemukan bahwa keterbatasan talenta SDM dan keterampilan menjadi tantangan terberat dengan porsi 36%, melampaui pendanaan investasi yang terbatas (31%), rendahnya akses ke ekosistem teknologi yang tangguh (20%), kebijakan atau peraturan pemerintah (17%), serta persoalan keamanan cyber (15%).

Menjawab tantangan security intelligence, Telkomtelstra menghadirkan keamanan cyber dengan empat keunggulan.



Pertama, security capabilities, dengan mengandalkan jangkauan luas layanan intelijen keamanan SOC, memperluas dan meningkatkan kemampuan manajemen ancaman yang tersedia dari alat firewall generasi terbaru.



Kedua, solusi sepenuhnya terkelola. Solusi yang dikemas secara komprehensif dan dikelola sepenuhnya dengan fitur, kemampuan, layanan, dan dukungan yang jelas.



Ketiga, dukungan security expert, dikelola oleh tim ahli keamanan yang terpercaya dan terbaik di Indonesia. Dan keempat, infrastruktur keamanan yang terintegrasi, memanfaatkan investasi besar dalam teknologi keamanan, termasuk platform Telkomtelstra untuk peringatan dan pengelolaan insiden keamanan otomatis yang cepat.

Kelebihan dan Kekurangan Artificial Intelligence



Kita semua sudah tahu bahwa banyak teknologi saat ini sudah menggunakan sistem AI atau Artificial Intelligence.

Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan adalah sebuah kecerdasan yang ditambahkan pada suatu sistem yang bisa diatur ke dalam konteks ilmiah atau biasa disebut dengan intelegensi artifisial.

Dilansir dari wikipedia, Andreas Kaplan dan juga Michael Haenlein menjelaskan bahwa AI merupakan kemampuan suatu sistem untuk menafsirkan data eksternal secara benar, untuk belajar dari data tersebut, dan menggunakan pembelajaran tersebut guna mencapai tujuan dan tugas tertentu melalui adaptasi yang fleksibel.

Pada mulanya, konsep kecerdasan buatan ini sudah ada sejak zaman dahulu, tepatnya pada zaman Yunani Kuno. Walau konsepnya sudah muncul sejak zaman dahulu kalah, namun istilah ini baru tren di pertengahan abad ke 20 di tahun 1950. Alan Turing, sebagai salah satu ahli matematika menjadi orang yang ikut berperan dalam mencetuskan ide artificial intelligence ini.

Walau dirancang untuk memudahkan pekerjaan manusia, sistem ini tidak seutuhnya sempurna dan memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan Artificial Intelligence



1. Bersifat Abadi atau Permanen
    Artificial intelligence adalah sebuah kecerdasan buatan yang bersifat abadi atau permanen. Disebut permanen karena AI dapat digunakan berulang kali, di mana saja, dan kapan saja. Sistem ini juga selalu dikaitkan dengan penggunaan tenaga manusia.

Contoh dari penggunaan AI adalah tenaga manusia tidak sepenuhnya dibutuhkan dalam menyelesaikan pekerjaan. Sehingga sebuah perusahaan tidak lagi membutuhkan banyak karyawan. Karyawan bisa saja tergantikan, sedangkan AI tidak bisa.

2. Memberikan Banyak Kemudahan
Pembuatan AI memang dikhususkan untuk memudahkan pekerjaan manusia. Data yang diterima sebelumnya akan disimpan dan bisa diakses kembali di kemudian hari. Selain itu, sistem AI juga bisa bekerja lebih cepat dibandingkan tenaga manusia.

3. Konsisten dan Teliti
Artificial intelligence juga memiliki sifat konsisten dan teliti. Semua data dan pengetahuan yang masuk tidak akan berkurang serta peluang AI melakukan kesalahan adalah sangat kecil. Misalnya saja ketika kamu menghitung kalkulator di komputer atau mengerjakan perhitungan melalui excel, jarang sekali ditemukan kesalahan. Hal inilah mengapa AI sangat dibutuhkan untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan manusia.

4. Bisa Disimpan
Ai mempunyai kelebihan yaitu dapat mengolah big data, sehingga data sebesar dan sebanyak apapun yang diterima tidak akan menjadi masalah. Semua data yang masuk pastinya bisa disimpan dan digunakan kembali di kemudian hari oleh generasi selanjutnya.

Kelemahan Artificial Intelligence



1. Cost yang Tinggi
Untuk membuat teknologi yang menggunakan sistem AI ini diperlukan cost atau biaya yang tinggi. Karena adanya kompleksitas mesin yang mendukung AI, sangat masuk akal jika mesin yang digerakkan oleh sistem AI bisa terbilang cukup mahal dan spesifik. Selain itu dibutuhkan banyak sumber daya serta waktu pembuatan yang cukup lama. Karena proses yang teliti ini membuat AI menjadi mahal.

2. Memperkecil Lapangan Pekerjaan
Karena semua pekerjaan bisa dilakukan dengan adanya artificial intelligence membuat lapangan pekerjaan bagi manusia menjadi sempit. Dengan memiliki teknologi AI, sebuah perusahaan rela membayar harga yang mahal dari pada menggaji karyawan setiap bulannya. Maka dari itu, sistem AI juga dapat menciptakan pengangguran.

3. Tidak Memiliki Kreativitas
AI hanya akan melakukan tugas-tugas yang sebelumnya sudah diatur dan direncanakan oleh manusia. Sehingga jika pada suatu hari menginginkan perubahan baru atau inovasi, mesin ini harus diatur kembali. Karena mesin AI tidak memiliki perasaan dan juga kreativitas.

4. Tidak Tahu Etika
Apapun pekerjaannya pastinya akan membutuhkan tenaga dan pikiran manusia walau hanya sedikit. Artificial intelligence memang dapat membantu organisasi atau perusahaan dengan mengefektifkan waktu kerja yang dibutuhkan. Tetapi pekerjaan yang masih ada hubungannya dengan manusia tentunya harus memiliki etika agar pekerjaan dan hubungan antar manusia bisa berjalan dengan baik.

Kamis, 05 Januari 2023

5 KASUS CYBER CRIME DI INDONESIA DAN LUAR NEGERI

 

Apa yang Dimaksud dengan Cyber Crime?

    Cyber crime, atau kejahatan di dunia maya, adalah jenis kejahatan yang dilakukan melalui komputer dan jaringan. Komputer sendiri merupakan alat utama untuk melakukan cyber crime ini, tetapi seringkali komputer juga dijadikan sebagai target dari kejatahan ini. Biasanya, cyber crime membahayakan seseorang karena pencurian data hingga keuangan.  Berikut 5 contoh Cyber Crime di Indonesia dan Luar Negeri.



5 Kasus Cyber Crime di Indonesia : 



1. Informasi aneh disitus web KPU(2004)


Tahun 2004 merupakan kali pertama Indonesia menyelenggarakan pemilu. Tim IT KPU juga meluncurkan website KPU senilai Rp 152 miliar dan tidak bisa diretas.

Tak disangka, pernyataan tersebut justru menantang seorang hacker bernama Xnuxer (Dani Firmansyah) untuk membobol situs tersebut. Awalnya, Xnuxer mencoba menyerang dengan melakukan XSS (Cross Site Scripting), untuk menyuntikkan kode berbahaya ke situs KPU.

Karena gagal, Xnuxer juga mencoba spoofing, yang melibatkan pengalihan IP situs sehingga dapat mengambil alih situs. Serangan Xnuxer berhasil dan memungkinkannya melakukan injeksi SQL. Alhasil, hacker Jogja ini berhasil memodifikasi website dan mengubah informasi di website KPU.

Misalnya, nama partai diubah menjadi Partai Si Yoyo, Partai Kolor Ijo, Partai Web Pertama, dll. Bahkan, Xnuxer juga mencoba mengubah hasil voting namun gagal.

Setelah kejadian ini, situs KPU juga beberapa kali diserang. Bayangkan saja kekacauan yang bisa terjadi jika situs web pemerintah terus-menerus dimanipulasi untuk menyebarkan informasi yang salah di masyarakat.

2. Tiket.com dan Citilink diserang oleh hacker(2016)

Pada Oktober 2016, sekelompok peretas remaja berhasil meretas situs tiket online Tiket.com ke server Citilink. Tidak tanggung-tanggung, Tiket.com merugi 4,1 miliar, sedangkan Citilink 2 miliar.

Kejadian ini terungkap setelah Tiket.com melaporkan pencurian situs webnya ke Bareskrim Polri pada 11 November 2016. Menurut penyelidikan, tindakan peretas itu sebenarnya tidak canggih.

Namun sayangnya, situs-situs tersebut pada saat itu belum memiliki tingkat keamanan yang memadai.

3. Situs web Telkomsel menampilkan kata-kata kasar(2017)

Masyarakat Indonesia yang mengunjungi website Telkomsel protes keras karena ditanggapi dengan kata-kata kasar di website provider ternama itu. Ternyata ada orang yang menentang tingginya pajak Telkomsel dengan cara diretas.

Menurut Alfons Tanujaya, pakar keamanan siber, kemungkinan ada lubang keamanan di sistem penyimpanan atau peretas mengetahui nama pengguna dan kata sandi web hosting (brute force).

Akibatnya, peretas berhasil menurunkannya dengan mengubah tampilan dan nuansa situs web Telkomsel. Situs web telah lumpuh, sehingga tidak memungkinkan pengunjung mengakses informasi seperti biasa.

Untungnya, data pelanggan Telkomsel disimpan terpisah dari server website sehingga selalu aman. Telkomsel juga merestorasi website mereka dalam waktu setengah hari.

4. Situs web DPR RI Down dan berganti nama(2020)

Dunia cyber crime juga akrab dengan istilah hacktivism, yaitu meretas situs web pemerintah atau organisasi dengan tujuan membuat sesuatu didengar. Dan ternyata website DPR RI jadi korbannya lho.

Awalnya pengunjung tidak bisa mengakses halaman dpr.go.id. Indra Iskandar, sekretaris jenderal DPR RI saat itu, mencontohkan, peristiwa itu terjadi karena lalu lintas padat.

Setelah diselidiki, lonjakan ini ditemukan sebagai hasil dari serangan DDoS. Sehingga situs DPR RI pun mendapat tsunami request yang membuat server semakin berat memuat hingga akhirnya crash.

Namun ternyata kesalahan ini adalah entri yang sengaja dibuat oleh para peretas. Orang ini kemudian merusak situs.

Setelah pengunjung dapat mengakses situs, mereka akan membaca kata-kata Dewan Pengkhianat Rakyat. Rupanya ini adalah protes hacktivist terhadap undang-undang penciptaan lapangan kerja.

Tim IT DPR RI langsung menutup lokasi dan melakukan perawatan. Meskipun situs tersebut akhirnya dipulihkan, web menjadi lebih lambat karena dampak serangan virus.

5. Penyerangan terhadap website Sekretariat Kabinet RI(2020)

Pada saat yang sama, situs web Sekretariat Kabinet Indonesia, yaitu setkab.go.id, diserang oleh serangan sabotase. Deface situs ini memungkinkan peretas untuk mengubah tampilan dan nuansa situs target mereka.

Rupanya, peretasan ini dilakukan untuk tujuan ekonomi, yaitu menjual skrip backdoor dari situs web korban kepada mereka yang menginginkannya.

Awalnya, situs setkab.go.id diretas dan tidak bisa diakses. Tampilan website kemudian berubah menjadi hitam dengan gambar pengunjuk rasa yang membawa bendera merah putih dan tulisan “Padang Blackhat II Anon Illusion Team Pwned By Zyy Ft Luthfifake”.

Menurut penyelidikan polisi, peretasan ini terjadi karena kelemahan sistem keamanan dan kelalaian operator.


5 Kasus Cyber Crime di Luar Negeri : 


1. Virus WannaCry(2017)

Serangan Cyber paling luas yang pernah ada , peretas berhasil mendapatkan akses ke semua sistem komputer rumah sakit di seluruh dunia pada pertengahan 2017, menyebabkan kekacauan diantara sistem medis di indonesia. 

Alat peretasan yang ddigunakan sama dengan penyerangan terhadap perusahaan pengiriman  dan komputer yang terinfeksi virus ini ada di 150 negara termasuk indonesia

Ransomware atau yang dsebut " WannaCry " ini  dikirimkan melalui Email dalam bentuk Attachment.

Setelah pengguna mengklik Lampiran tersebut maka virus tersebut akan menyebar melalui komputer mereka dan mengunci semua file mereka dan meminta uang sebelum dapat diakses kembali.  Sebanyak 300.000 komputer terinfeksi virus.

2. Hacker mencuri 11 Triliun dari Bank Dunia(2015)




Untuk jangka waktu 2 tahun pada awal 2015, sekelompok peretas yang berbasis di rusia berhasil mendapatkan akses untuk mengamankan informasi dari lebih dari 100 institusi di seluruh dunia

Penjahat dunia maya menggunakan malware untuk menyusup ke sistem komputer bank dan mengumpulkan data pribadi , mereka kemudian dapat meniru staf bank online untuk mengotorisasi transfer curang dan bahkan memesan mesin ATM untuk mengeluarkan uang tunai tanpa kartu bank. Diperkirakan sekitar 650 juta ( 11 Triliun ) dicuri dari lembaga keuangan secara total .

3. Google China(2009)



Pada paruh kedua tahun 2009, Google China yang diluncurkan tiga tahun sebelumnya mengalami serangkaian serangan siber.

Serangan yang disebut Operation Aurora berhasil mencuri intellectual property dari Google. Serangan ini ternyata tidak hanya menyasar Google, tapi ada 30 perusahaan besar lainnya juga mengalami serangan malware. Dilaporkan bahwa serangan ini merupakan upaya mendapatkan akses ke akun-akun milik para aktivis publik di China. 

Dalam sebuah postingan di blog di awal 2010, Google menegaskan bahwa serangan tersebut tidak mencapai  tujuannya dan hanya dua akun Gmail yang berhasil diakses. Itupun hanya sebagian saja yang berhasil diakses.  

Hasil penelusuran memperlihatkan bahwa serangan tersebut berasal dari dua sekolah di China yang ditengarai bermitra dengan kompetitor Google yang berasal dari negeri tirai bambu itu.

4. Playstation Network(2011)



Serangan ini terungkap saat Sony menemukan beberapa fungsi PlayStation Network mengalami gangguan. Meski serangan berlangsung hanya selama 2 hari, namun berdampak pada layanan online PlayStation selama hampir satu bulan dan 77 juta akun terekspos selama 23 hari.  

Bersamaan dengan itu, data pada 12.000 kartu kredit dicuri. Akibatnya, Sony dipanggil oleh US House of Representatives dan selanjutnya, Sony dikenai denda sebesar seperempat juta pound oleh British Information Commissioners Office karena dianggap tidak menerapkan security measures yang memadai. Insiden yang berlangsung selama 23 hari ini menimbulkan biaya hingga £140 juta atau sekitar Rp2,8 triliun.

5. Sony Pictures Entertainment(2014)



Tiga tahun setelah insiden PlayStation Network, semua mata kembali tertuju pada  Sony. Kali ini data-data rahasia Sony Pictures Entertainment yang diretas. 

Satu kelompok yang menamai dirinya  ‘Guardians of Peace’ atau penjaga perdamaian mengklaim bahwa dirinya ada di balik serangan tersebut dan bahwa mereka telah memperoleh akses setahun sebelum diketahui publik.  Data-data yang diakses para peretas adalah data karyawan SPE dan keluarganya, seperti data e-mail, alamat, dan informasi keuangan.

Data lain yang diambil peretas adalah skrip dari film-film yang akan dirilis SPE dan catatan kesehatan para aktor ternama.

Sony harus menyisihkan dana sebesar US$15 juta untuk menangani insiden ini, tapi tidak mampu menghentikan kebocoran data yang terjadi.  

Film berjudul The Interview harus ditarik dari peredaran setelah mendapat ancaman dari kelompok GOP.



























Kecerdasan Buatan Apa Yang Dibutuhkan Mahasiswa Ilmu Komunikasi?

Menurut saya ada beberapa Kecerdasan Buatan yang dibutuhkan Mahasiswa Ilmu Komunikasi. Berikut kecerdasan yang dibutuhkan Mahasiswa Ilmu Kom...